Selasa, 26 Maret 2013

SENI TARI NUSANTARA

A. RAGAM TARI TUNGGAL DAERAH

Apakah kamu tahu apa yang dimaksud tari tunggal? Tari tunggal adalah tarian yang ditarikan oleh seorang penari, baik penari putra maupun penari putri. Coba kamu amati berbagai jenis tari tunggal yang berasal dari daerahmu. Tari tunggal yang berasal dari daerahmu merupakan karya seni tari tunggal daerah setempat. Pada bab ini, kamu akan mempelajari beberapa macam tari tunggal yang berasal dari Jawa Barat dan Betawi antara lain, tari Topeng Cisalak, tari Sintren, tari Ibing Keurseus, dan tari Jaipong. Mari cermati uraiannya satu persatu.

1.    Tari Topeng Cisalak 
Tari Topeng Cisalak merupakan kesenian yang berkembang di daerah Cisalak, Cimanggis,  Depok. Awalnya, tari Topeng Cisalak munculpada tahun 1918 dengan nama Topeng Kinang. Dua orang tokoh yang menciptakan tarian ini adalah Djioen dan Mak Kinang. Kedua orang ini merupakan pemain Topeng Ubrug yang terkenal pada masa itu, sehingga tari Topeng Cisalak mendapatkan banyak pengaruh dari tari Topeng Ubrug. Pertunjukan tari Topeng Cisalak melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutupan.

a.   Tahap persiapan 
Persiapan yang dilakukan, yaitu menyiapkan panggung yang dilengkapi dengan spanduk dan tirai sebagai identitas kelompok tari, di mana para penari bersiap-siap dan para pemain musik menyiapkan alat-alatnya. 

b.  Tahap pelaksanaan 
Tahap pelaksanaan dimulai dengan prosesi ngukus dan sesaji yang dilakukan di depan waditra bende seusai adzan maghrib. Sesaji yang disediakan berupakemenyan dan cerutu untuk dibakar, tujuh macam minuman, tujuh macambunga, rujakan, beras, perawanten, nasi, dan bakakak ayam.
Dalam prosesi ini, waditra rebab, kendang, dan gong dikukusi diiringi harapan supaya pertunjukan berjalan lancar. Sementara itu, waditra bende diperlakukan secara khusus dengan diberi air kembang tujuh macam. Biasanya pada acara ini warga memberikan air disertai uang ala kadarnya untuk mendapat berkah. Tahap pelaksanaan diawali dengan memukul gong sesuai dengan hari
pementasan, diikuti dengan tatalu, yaitu permainan semua waditra tanpa irama. Jumlah pukulan gong ini bervariasi, sesuai dengan hari pelaksanaan pertunjukan. Misalnya, jika pertunjukan berlangsung pada hari Senin, gong dipukul sebanyak 4 kali. Demikian pula dengan hari Selasa gong dipukul 3 kali, Rabu 7 kali, Kamis 8 kali, Jumat 6 kali, Sabtu 9 kali, dan Minggu 5 kali.
Kemudian, dilantunkan tembang atau kakawih yang disambung dengan pementasan tari Topeng Tunggal oleh penari yang disebut ronggeng topeng. Disusul dengan tari Lipet Gades, yaitu tari berpasangan ronggeng dengan penari bodor, dan dilanjutkan dengan acara bodoran atau lawak sebagai penutup pertunjukan.
Ada tiga macam topeng yang dikenakan penari Topeng Tunggal sesuai dengan jumlah tarian yang dibawakan, yaitu:
  • Pada tarian pembuka, penari mengenakan topeng berwarna putih. Topeng ini disebut Topeng Panji yang melambangkan kelembutan. Karena itu tarian yang dibawakan pun bersifat lemah lembut. Ini adalah tarian penyambut penonton pada pertunjukan tari Topeng Cisalak.
  • Setelah tarian pembuka selesai, penari berbalik membelakangi penonton dan mengenakan Topeng Sanggah, yaitu topeng yang berwarna merah muda. Pada tarian kedua ini, gerakan penari lebih atraktif dan dinamis.
  • Tarian ketiga merupakan tarian yang paling agresif, sesuai dengan topeng yang dikenakan yang berwarna jingga atau merah menyala bermotif raksasa. Tarian pun bersifat beringas dan kasar. Setelah tarian ini berakhir, penari kembali ke balik tirai digantikan oleh tiga penari lain yang memainkan tari Ajeng disusul tari Lipet Gandes. Pertunjukan berakhir dengan bodoran.
Tari Topeng Cisalak seringkali disebut juga tari Topeng Betawi, karena tari tersebut juga dipengaruhi kebudayaan Betawi. Nyanyian dan waditra yang digunakan memang khas Sunda, namun dialeknya dipengaruhi dialek Tionghoa dan Betawi pinggiran. 

2Tari Sintren 
Tari Sintren berkembang di daerah Indramayu dan Cirebon. Tari tersebut memiliki keunikan dalam alat-alat musik yang dipergunakan, di mana alat musiknya terbuat dari tembikar dan kipas dari bambu. Jika alat-alat tersebut ditabuh dengan cara tertentu, maka akan menimbulkan suara yang khas. Istilah Sintren berasal dari dua kata, yaitu sinyo dan trennen. Sinyo berarti pemuda dan trennen berarti latihan. Jadi, Sintren dapat diartikan sebagai pemuda yang sedang berlatih kesenian. Tari Sintren sudah sangat jarang dipentaskan. Oleh karena itu, tari Sintren menjadi kesenian tradisional yang sangat dihargai.
Pertunjukan tari Sintren mirip dengan pertunjukan sulap dan berbau magis. Tari Sintren dibawakan oleh seorang penari perempuan. Penari naik ke pentas dengan pakaian sehari-hari, lalu dimasukkan ke dalam kurungan seperti kurungan ayam. Kemudian, pendukung acara lainnya memasukkan pakaian tari ke dalam kurungan itu. Dalam beberapa saat ketika kurungan dibuka, sang penari sudah mengenakan pakaian tari. Suasana magis terasa dengan terus dikepulkannya asap dupa selama pertunjukan tari Sintren. 

3.    Tari Ibing Keurseus 
Tari Ibing Keurseus dibawakan oleh seorang penari laki-laki. Istilah Ibing Keurseus dapat diterjemahkan menjadi “tarian untuk pengajaran”. Tarian ini diciptakan oleh Raden Sambas Wirakusumah sekitar awal abad ke-20. Penciptaan tarian ini bermula dari tari Tayuban yang pada saat itu dibawakan oleh seorang ronggeng. Namun tarian tersebut berkesan buruk, sehingga seorang bangsawan bernama Raden Bantjakusuma menata kembali gerakannya menjadi sebuah tari yang lebih indah. Salah seorang muridnya, yaitu R.S. Wirakusumah, berupaya merunutkan unsur-unsur klasik tari tersebut dan menghasilkan sekelompok gubahan khas yang disebut tari Ibing Keurseus.
R.S. Wirakusumah mengubah tari Ibing Keurseus menjadi empat tarian. Empat tarian gubahan tersebut menjadi dasar pendidikan tari Sunda. Tarian tersebut mencerminkan jenis watak laki-laki yang khas. Keempat tari Ibing Keurseus dapat dipentaskan pada acara sosial dengan diiringi gamelan klasik lengkap. Keempat jenis tari Ibing Keurseus, yaitu: 

a.  Tari Leyepan 
Leyepan merupakan tarian indah yang bertempo lambat. Tarian ini melukiskan watak yang tenang dan sederhana. Geraknya mengalir tenang, kepala bergerak memutar, dan mata selalu menatap ke bawah. Iramanya lembut dan menghanyutkan. 

b.  Tari Nyatria 
Nyatria merupakan tarian yang bertempo lebih cepat. Gerakannya lebih tegas dan cepat. Penari menegakkan kepala, yang menunjukkan kewaspadaan dan keterbukaan. Konon, tarian tersebut menggambarkan kekhasan orang Sunda. 

c.  Tari Monggawa
Monggawa sering juga disebut Kring Dua, yang berarti musik gamelan yang mengiringinya cukup pendek dengan tempo sedang diiringi tabuhan kendang yang keras. Tarian ini menyuguhkan gerak yang bersemangat dan tegas, menekankan pada kelugasan, kepercayaan diri, dan kekuatan. 

d.  Tari Ngalana 
Ngalana juga merupakan tarian yang gagah, namun menggunakan tempo yang lebih cepat daripada ketiga tarian sebelumnya. Musik dan tari Ngalana mencerminkan keceriaan, yang ditandai dengan gerak yang disebut pakblang, yaitu penari mengibaskan ujung selendangnya secara bergantian di atas kepala sambil melompat pendek dan menganggukkan kepala dengan lugas dan patah. Terkadang penari juga menepukkan tangan di atas kepala. 

4.  Tari Jaipong  
Tari Jaipong lahir pada tahun 1980 yang diciptakan oleh Gugum Gumbira. Tarian ini merupakan pengembangan dari tari Ketuk Tilu. Karya tari Jaipong pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pulus, Keser Bojong, dan Rendeng Bojong.
Daya tarik atau keunikan tari Jaipong adalah geraknya yang dinamis dan tabuhan gendangnya yang unik. Karawitan tari Jaipong terdiri atas gendang, ketuk, rebab, gong, kecrek, dan sinden. Kostum atau tata busana yang dikenakan dalam tari Jaipong adalah sinjang (celana pendek) dan apok (kebaya) yang diberi berbagai hiasan. 
Pada penyajian tari Jaipong, ada yang diberi pola (ibing pola) seperti pada seni Jaipong Bandung dan ada pula tarian yang tidak dipola (ibing saka), seperti seni Jaipong Subang dan Karawang.
Saat ini, tari Jaipong dapat dikatakan sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Hal tersebut tampak dengan diadakannya pertunjukan tari Jaipong pada beberapa acara-acara penting dan penyambutan tamu asing. Selain itu, pertunjukan tari Jaipong diikutsertakan dalam misi-misi kesenian ke luar negeri.
Tari Jaipong banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, seperti pada seni pertunjukan wayang, degung, dan kecapi. Tari Jaipong juga dapat dikolaborasikan dengan musik dangdut modern menjadi kesenian pong-dut (tari Jaipong dan dangdut). 
Pada penyajian tari Jaipong, ada yang diberi pola (ibing pola) seperti pada seni Jaipong Bandung dan ada pula tarian yang tidak dipola (ibing saka), seperti seni Jaipong Subang dan Karawang. Saat ini, tari Jaipong dapat dikatakan sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Hal tersebut tampak dengan diadakannya pertunjukan tari Jaipong pada beberapa acara-acara penting dan penyambutan tamu asing. Selain itu, pertunjukan tari Jaipong diikutsertakan dalam misi-misi kesenian ke luar negeri. Tari Jaipong banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, seperti pada seni pertunjukan wayang, degung, dan kecapi. Tari Jaipong juga dapat dikolaborasikan dengan musik dangdut modern menjadi kesenian pong-dut (tari Jaipong dan dangdut). 


B.   JENIS-JENIS TARI BERPASANGAN DAN TARI KELOMPOK DAERAH  

Tari berpasangan adalah tarian yang dibawakan oleh dua orang, seperti putra dengan putra, putri dengan putri, atau putra dengan putri. Sedangkan tari kelompok adalah tari yang dibawakan oleh empat orang atau lebih. Antara tari kelompok dan tari berpasangan mempunyai hubungan yang erat. Artinya, tari berpasangan dapat dilakukan secara berkelompok.
Tari berpasangan atau tari kelompok yang berasal dari daerahmu merupakan karya seni tari berpasangan atau kelompok daerah setempat. Apakah kamu mengenal jenis-jenis tari berpasangan dan kelompok daerah setempat yang berasal dari daerahmu? Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis tari berpasangan yang berasal dari daerah Jawa. Mari cermati uraiannya bersama. 

1.    Tari Bedhaya  
Tari Bedhaya merupakan tarian yang mempunyai nilai keramat. Tari Bedhaya termasuk ke dalam jenis tari pusaka keraton di Jawa Tengah. Terdapat berbagai jenis tari Bedhaya, seperti tari Bedhaya Ketawang dari Surakarta dan tari Bedhaya Bedah Madiun dari Yogyakarta.
Tari Bedhaya menjadi keramat karena adanya mitos dan keyakinan tentang pencipta tari klasik tersebut. Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta tari Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja pertama dari Kerajaan Mataram. Tari tersebut diciptakan bersama dengan penguasa laut selatan yang disebut Kanjeng Ratu Kidul.  
Gerakan tari Bedhaya sangat halus dan bernilai tinggi (adiluhung) sehingga dapat menciptakan suasana tenang, teduh, dan khidmat. Gerak-gerak tari Bedhaya menggambarkan kepribadian putri-putri raja di keraton, serta sikap dan sifat-sifat ideal wanita Jawa yang sopan santun. Busana tari Bedhaya Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun
Pertunjukan tari Bedhaya Ketawang sudah mengalami pergeseran nilai. Pada zaman dahulu, tari Bedhaya Ketawang dipertunjukkan pada saat penobatan raja. Sedangkan saat ini, pertunjukan Bedhaya Ketawang telah mengalami perubahan pada berbagai aspek. Nilainya telah bergeser menjadi sebuah warisan budaya yang nilai seninya harus dilestarikan. Akan tetapi, bentuk tatanan pertunjukannya masih mengacu pada tradisi ritual atau tata cara masa lampau.
Tari Bedhaya Ketawang mengandung berbagai unsur, makna, dan sifat yang erat hubungannya dengan adat upacara, sakral, religius, dan tarian percintaan atau tari perkawinan.
  • Adat upacara adalah Tari Bedhaya Ketawang ditampilkan pada acara khusus atau resmi. Tari Bedhaya Ketawang hanya dipergelarkan pada acara yang berhubungan dengan peringatan ulang tahun tahta kerajaan. Jadi, tarian tersebut hanya dipergelarkan sekali dalam setahun. Selama tarian berlangsung, dilarang untuk menyajikan makanan dan minuman karena akan mengurangi kekhidmatan acara.
  • Sakral  adalah Tari Bedhaya Ketawang dianggap sebagai tarian yang diciptakan oleh Ratu Kidul. Bahkan, dipercaya bahwa setiap kali tari Bedhaya Ketawang ditarikan, Ratu Kidul selalu hadir dan ikut menari. Biasanya, penari tari Bedhaya Ketawang dapat merasakan kehadiran Ratu Kidul pada saat latihan. Akan tetapi, tidak setiap orang dapat melihat Ratu Kidul. Hanya orang yang memiliki kepekaan indrawi yang dapat merasakan kehadiran Ratu Kidul tersebut.   
  • Religius   adalah Segi religius dalam tari Bedhaya Ketawang terlihat dari kata-kata yang dinyanyikan oleh suara sinden atau penyanyinya. Kata-kata tersebut antara lain ada yang berbunyi: tanu astra kadya agni urube, kantar-kantar? yen mati ngendi surupe, kyai?? (??kalau mati ke mana tujuannya, kyai?) 
  • Tarian percintaan atau tari perkawinan adalah Tari Bedhaya Ketawang melambangkan rasa cinta Ratu Kidul kepada Sultan Agung. Perasaan cinta tersebut terlihat dalam gerak-gerik tangan dan seluruh bagian tubuh, cara memegang selendang, dan sebagainya. Semua penari tari Bedhaya Ketawang dirias seperti pengantin (mempelai).
Penari tari Bedhaya berjumlah sembilan orang. Para penari putri tersebut harus dalam keadaan bersih secara spiritual (tidak dalam keadaan haid). Selain itu, beberapa hari sebelumnya para penari diwajibkan untuk berpuasa. Komposisi penari Bedhaya Ketawang terdiri atas Endhel, Pembatak, Apit Najeng, Apit Wingking, Gulu, Enhel Weton, Apit Meneng, Dadha, dan Buncit.
Pada zaman dahulu, pergelaran tari Bedhaya Ketawang berlangsung selama 2 1/2 jam. Akan tetapi, sejak zaman Paku Buwana X diadakan pengurangan, hingga menjadi 1 1/2 jam.


2.    Tari Serimpi
Tari Serimpi merupakan tari klasik Jawa. Tari Serimpi menceritakan berbagai kisah, seperti cerita peperangan dan pertengkaran. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai merupakan ciri khas dari tari Serimpi. Gerak tari Serimpi menggambarkan pandangan hidup dan sikap wanita Jawa dengan cara yang lebih jelas, seperti perkelahian, persembahan, penerimaan, tangis, peperangan, keberanian, kelincahan, dan ketangkasan.
Tari Serimpi ditarikan oleh dua atau empat orang penari wanita. Ragam tari Serimpi sering digubah dengan berbagai gaya. Macam-macam tari Serimpi, seperti Serimpi Padelori, Andong-andong, Arjuno Mangsah, Dhempel Sangopati, Elo-elo, Dempel, Gambir Sawit, Muncar, Gandokusumo, dan Serimpi Lobong.
Tari Serimpi Padelori merupakan bentuk tari Serimpi terbaru. Tari Serimpi Padelori digubah oleh para guru perkumpulan tari Yogyakarta Among Beksa. Tari Serimpi gubahan baru tersebut ditarikan oleh delapan orang dan mengambil tema cerita Menak. 

 3. Tari Jethilan
Tari Jathilan termasuk tarian rakyat yang paling tua di Jawa. Tari Jathilan merupakan tarian yang tersebar di daerah Jawa dan memiliki berbagai nama. Di Jawa Tengah dan DIY, tari Jathilan dinamakan jaran kepang, incling, atau ebeg. Di Jawa Timur dinamakan jaran kepang. Dan di Jawa Barat, tari Jathilan dinamakan kuda lumping atau kuda kepang.


Penari Jathilan menggunakan peralatan pedang yang dibuat dari bambu dan menunggang kuda lumping. Busana yang dikenakan penari Jathilan adalah celana sepanjang lutut, kain batik, setagen, efek timang, iket, sampur, dan rompi. Kadang-kadang, penyajian tari Jathilan menggunakan sosok barongan yang menari dengan gerak-gerak berlebihan.


Pada zaman dahulu, penari Jathilan berjumlah dua orang. Akan tetapi, saat ini tari Jathilan ditarikan oleh banyak orang dalam bentuk berpasangan. Tari Jathilan menggambarkan tentang peperangan dengan naik kuda dan bersenjatakan pedang. Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai topeng.


Para penari yang menggunakan topeng terdiri atas topeng hitam dan topeng putih. Penari yang memakai topeng putih bernama Bancak (Penthul), sedangkan penari yang memakai topeng hitam bernama Doyok (Bejer atau Temben). Kedua tokoh tersebut berfungsi sebagai pelawak, penari, dan penyanyi untuk menghibur prajurit berkuda yang sedang beristirahat setelah perang.


Saat ini, muncul tari Jathilan gaya baru di Desa Jiapan, Tempel, dan Sleman. Instrumen yang digunakan dalam tari Jathilan gaya baru tersebut adalah kendang, bedhe, gong, gender, dan saron. Tari Jathilan gaya baru tersebut tidak memakai angklung.


4.    Tari Gandrung 
Tari Gandrung merupakan tarian yang berasal dari daerah Banyuwangi. Tari ini diperankan oleh penari wanita yang juga dipanggil Gandrung bersama dengan dua sampai empat laki-laki. Tari Gandrung sangat terkenal dan digelar hampir disetiap perayaan, seperti acara khitanan dan pernikahan. Panggungnya dapat berbentuk arena, halaman atau panggung kecil. Tata busana penari Gandrung mendapat pengaruh dari Bali. Busana yang dikenakan terbuat dari beludru berwarna hitam yang dihiasi oleh ornamen kuning emas dan manik-manik yang mengkilat. Selendang dikenakan di bahu. Kepala dihiasi oleh mahkota yang disebut omprok. Penari Gandrung menggunakan kain batik dengan corak yang bermacammacam. Perlengkapan yang digunakan adalah kipas. Dalam pertunjukan tari Gandrung terdapat tiga bagian penting, yaitu sebagai berikut:
  • Jejer, yaitu bagian di mana penari Gandrung menampilkan rangkaian gerak sesuai dengan lagu yang dinyanyikan berupa padha nonton.
  • Maju Gandrung, yaitu bagian di mana para tamu bersiap-siap untuk menari bergantian bersama Gandrung. Tamu laki-laki yang menari diberi kesempatan memilih lagu dengan memberi uang kepada pengendhang dan penari Gandrung.
  • Seblang Subuh, yaitu saat semua tamu pria telah mendapat giliran menari dan fajar (subuh) sudah dekat. Gandrung menutup acara dengan tarian dan lagu yang berjudul Seblang Subuh.

5. Tari Remo
Tari Remo adalah tari yang berasal dari Jawa Timur. Tari Remo menggambarkan karakter dinamis masyarakat Surabaya. Karakter yang ditampilkan adalah keberanian seorang pangeran.
Musik yang digunakan untuk mengiringi tari Remo adalah musik gamelan dalam gending. Gamelan tersebut terdiri atas bonang, saron, gambang, gender, slenthem, sitter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Gendingnya adalah Jula-Juli Suroboyo dan Tropongan. Kadang-kadang, dilanjutkan dengan Walang Kekek, Gedog Rancak, dan Krucilan.
Tari Remo terdiri atas dua gaya, yaitu perempuan dan laki-laki yang dapat ditampilkan secara bersama-sama dalam suatu grup. Tari Remo juga dapat dibawakan dalam bentuk tari tunggal.
Pada awalnya, tari Remo ditampilkan sebagai tari pembuka dari seni ludruk atau wayang kulit Jawa Timur. Namun saat ini, tari Remo juga ditampilkan pada berbagai acara festival dan saat menyambut tamu.
Penari tari Remo mengunakan tiga jenis kostum, yaitu Sawunggaling (gaya Surabaya), bagian atas berwarna hitam yang menghadirkan pakaian abad ke-18, dan celana bludru hitam dengan hiasan emas dan batik. Penari Remo juga dilengkapi dengan dua selendang (sampur).

http://www.brilliantaplex.blogspot.com/p/link-exchange.html
http://www.brilliantaplex.blogspot.com/2013/01/link-exchange.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Perkambangan Seni Budaya Dalam Blog Lain